Mahaputra Vito

Mahaputra Vito is a yogyakarta based young visual artist. still busy looking and trying to understand his socio cultural position, and he's busy exploring the visual values of his artworks that still influenced a lot by avant-garde artists around. He loves to talk about hedonism and consumerism of today's youngster as he is now in his artwork.
well contact him at
mahaputravito@yahoo.com

Move Forward, Act Right, Pray Hard

acrylic and chalk on wood

variable dimension

2013

Mundur Ke Depan, Menatap Ke Belakang
acrylic on paper
10x7 in

Mundur Ke Depan, Menatap Ke Belakang

acrylic on paper

10x7 in

Silkscreen posters for sale:

"Which One"

21 x 29,7 cm 200gr Old Mill paper

manually wood stained, signed, and numbered

limited of 9 (1/9, 3/9, 5/9, 7/9, 9/9 on blue)(2/9, 4/96/9, 8/9 on black)

IDR 100 k (US$ 20)

for any interest or questions feel free to contact me at mahaputravito@yahoo.com

A group exhibition by Kelompok Belajar 345

Di

Antara

“Aku berhutang kepada yang lain karena kehadiran yang lain menjadikan aku ada. Namun yang lain di sini bukan neraka bagiku karena aku dinamis, bukan aku statis, esensialis, fundamentalis. Aku di sini dapat dialamatkan kepada di antara yang menjadikan aku adalah di antara yang lain(-lain).”

Space, Place

Di antara mengartikan tidak di sana, tidak di sini. Ia mengartikan berada di antara sana dan sini. Ringkasnya, space yang berada di antara sana dan sini. Namun di antara juga dapat menjadi sebuah place. Manakala space menjadi place lantas di antara bisa menjadi titik labuh yang sama dengan yang di sana dan yang di sini. Perlu diketahui pengertian di sana maupun di sini tidaklah tunggal, artinya tidak selalu dalam hubungan dua entitas. Dua entitas dalam pameran “Di Antara” dapat dijelaskan bahwa karya-karya dalam pameran ini berada di antara fine art dan applied art. Namun apakah hal tersebut selalu dimengerti secara demikian jika kita meniscaya bahwa akhir-akhir ini muncul berbagai nama guna menjelaskan meleburnya dua entitas tersebut seperti influx, interdisiplin, mix media, bukan musik bukan seni rupa. Saya tertarik dengan kata influx yang mengartikan di sana terdapat sesuatu yang mengalir. Gerak yang mengalir. Gerak itu sendiri mau menyampaikan bahwa seni tidaklah statis, meski ia bisa saja linier. Orang Jawa bilang ngeli ning ora keli, punya ke sana sini namun tetap memiliki pendirian. Pertanyaannya pendirian art seperti apa yang ditawarkan oleh Kelompok Belajar 345 melalui karya-karya mereka dalam pameran “Di Antara”, yang diselenggarakan di Miracle Corner, Jalan Tirtodipuran 56, Yogyakarta, 13 – 19 April 2013? Bagaimana menjelaskan kata gabungan kata miracle dan corner dalam ruang (space) seperti Jalan Tirtodipuran yang secara lokasi digaduhi oleh berbagai ruang seni (galeri, art shop, penginapan, hingga keberadaan sebuah kampus seni (S2 ISI Yogyakarta)? Pilihan ruang pamer pun bisa mengindikasikan bahwa arus pengertian “di antara” mungkin mau (di)condong(kan) ke space yang fine art

Perjumpaan dengan Yang Lain

Saya (sempat) bingung mau menyebut apa kepada mereka yang pameran “Di Antara”. Secara akademik mereka, Charis Budi, Eli Giar, Eno P.W., Fiera Chandisa, Francisca Dian P., Gabriel Ricardo, Iwan Suastika, Luinambi Vesiano, Mahaputra Vito & Vira Citra, Maria Antonia adalah mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa ISI Yoguakarta (kecuali Vira Citra). Mereka menyebut diri sebagai artist, namun sayangnya seperti yang umum diketahui terjemahan kata artist yaitu seniman (jika ditulis sebagai artis ia kerap menunjuk kepada artis sinetron, artis film, artis musik). Saya kira para artist yang berpameran kali ini sedang berkarya keluar dari bingkai linier. Cara berkarya mereka yaitu dengan menciptakan sebuah kelompok dengan nama “Kelompok Belajar 345” beberapa waktu sebelumnya pernah berpameran di DKV ISI Yogyakarta. Penciptaan ruang semacam ini dapat dibaca sebagai sebuah cara bagaimana agar seorang artis/komunitas/kelompok tidak hanyut dalam arus. Sebuah ruang, dalam batas tertentu, merupakan sebuah cara agar manusia merasa aman nyaman. Ruang di sini dapat menunjuk ke dalam berbagai entitas seperti rumah, keluarga, kelompok, komunitas, hingga program studi. Dengan demikian sebuah ruang, meski ia sedang berada/menempati di antara, dapat menjadi cara menjelaskan sekaligus menempa identitas yang mau atau sedang dibangun. 

Gagasan tentang identitas pun membutuhkan kehadiran yang lain sebagai sarana membedakan diri. Maka itu kehadiran yang lain menjadi sebuah cara agar identitas yang dibangun memiliki makna eksistensial. Boleh jadi yang lain tersebut kali ini menunjuk pada ruang gaduh seni, yaitu citra Jalan Tirtodipuran dan Miracle Corner sebagai pilihan mengkomunikasikan identitas Kelompok Belajar. Mencoba berada di/dengan yang lain jadi penting agar identitas yang sedang dibangun tidak terjebak kepada esensialisme atau puritanisme yang mau mengatakan bahwa yang paling benar adalah identitasku/identitas kami. 

Keluar dari Jebakan Dualisme

Kalaupun ada yang mau dikritik yaitu tak lain poster pameran “Di Antara” terutama pada pilihan tanda yang dualistik: dua apel (merah, dan hijau), dua warna (warna latar, warna huruf), yang seolah-olah mau menyampaikan yang satu merupakan kebalikan dari yang satunya lagi. Memang, “di antara” lebih mudah dipahami dalam tegangan berada di antara dua pilihan. Saya yakin jika seni itu dinamis, demikian pula identitas pun dinamis, setidaknya cara memandang yang lain tidak selalu dalam pengertian hitam putih. Yang lain pun juga sama dinamisnya, sama-sama melakukan gerak ke sana sini, influx dan tidak selalu dalam posisi biner. Pentingnya keluar dari jebakan hitam putih justru memperkaya identitas kita sendiri yang tidak selalu mesti dijelaskan dalam disposisi berada di antara dua pilihan. Pikiran-pikiran dualistik macam ini dapat menjadi penghalang bagi identitas yang mau dibangun karena identitas hanya dapat dijelaskan sebatas melalui ini/di sini dan itu/di sana, yang di situ absen. 

Gerak dinamis menggambarkan adanya gerak yang tidak selalu berada di antara pilihan-pilihan. Yang perlu dicari yaitu budaya macam apa yang melahirkan gagasan “di antara” bagi Kelompok Belajar. Saya kira budaya akademik di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta yang di satu sisi menyimpan sejarah panjang dominasi fine art. Kata dominasi tidak mesti dimengerti dalam sudut pandang negatif. Justru pertanyaannya mengapa fine art dapat sedemikian dominan dibanding kriya, atau desain misalkan. Situasi macam apa yang menyebabkannya? Juga latar sosial budaya kota Yogyakarta yang bagaimana yang memberi iklim subur bagi gerak seni itu sendiri?

Di Antara sebagai Place

Saya, seperti halnya para artis Kelompok Belajar, mungkin kerap bingung menyebut diri: apakah aku ini desainer grafis, ataukah seniman, ataukah desainer-seniman? Kebingungan yang berlanjut menerus menyebabkan karya-karya yang diciptakan juga dalam status membingungkan, unplaced. Ia membingungkan karena masih dalam posisi sebagai space, belum sebagai place, masih berada, belum menghuni. Pilihan “di antara” mestinya juga dilihat sebagai siasat memposisikan eksistensi pemikiran dan berkarya. Posisi eksistensi dan kekaryaan tersebut pun tak harus seragam. Keragaman memposisikan inilah yang barangkali mau dijajaki oleh para artis dalam Kelompok Belajar melalui berbagai medium (ilustrasi, drawing, fotografi, atau gabungan diantaranya). 

Jejak di antara juga dapat dilihat lewat beberapa seniman, desainer, artis di ruang serupa. Indiguerillas misalkan, yang telah memiliki place dalam berkarya, yaitu meniupkan nafas art ke dalam applied. Terra Bajraghosa misalkan, bagaimana melalui strategi mendisainnya beberapa sampul buku terbitan Resist Book memiliki kesegaran baru dan menjadikan sampul buku tidak sebatas desain tetapi karya seni dalam artian eksperimentasi dan gaya personal. Sebelumnya terdapat Ong Harry Wahyu dan Buldanul Khuri yang menghadirkan karya-karya fine art ke dalam media applied art dan menjadikan buku memiliki cita rasa seni. Saya, yang tidak memiliki ikatan historis dengan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, manakala sejak tahun 2005 hingga kini hidup di situ, memberi cara dan warna tersendiri dalam berkarya (ilustrasi, desain). Nama-nama di atas, kecuali saya, hanya tafsiran saya saja yang bisa jadi tidak sepenuhnya demikian. Namun, sejauh yang dapat kita amati, tiap-tiap dari mereka membawa gaya personal dalam (beberapa) karya yang dirancangnya. Gaya personal inilah yang di satu sisi memberi obyektivikasi bagi hadirnya hal-hal yang subyektif dalam karya applied art, entah gaya/cara gambar, gaya/cara desain, gaya/cara (be)kerja, hingga gaya/cara berkomunikasi.

Nama-nama di atas setidaknya dapat dijadikan penanda perihal di antara sebagai sebuah place dalam berkarya. Kelompok Belajar mencoba memberi tawaran lebih lanjut, yang dalam hal tertentu memiliki perbedaan seperti generasi/situasi jaman, kosa/idiom visual, hingga isyu yang ditawarkan. Berhasil atau tidak Kelompok Belajar membangun place di antara, saya kira hal tersebut tidak dapat disimpulkan dari satu pameran saja. Ringkasnya, jika seni itu dinamis, dan identitas itu tidak statis, kita perlu menunggu karya-karya dari Kelompok Belajar pada pameran mereka selanjutnya. Pameran “Di Antara” kali ini boleh jadi merupakan batu sendi rumah yang sedang mereka dirikan. Dan rumah yang kokoh yaitu rumah yang dibangun di atas batu. Juga rumah yang memberi kehidupan yaitu yang dihembusi angin dari mana saja, dari sana sini, bukan dari kipas angin atau ac yang jika kita keluar dari rumah tersebut kita merasa tidak nyaman. Menghuni bukan berarti berdiam diri. Menghuni berarti berjumpa dan membuka diri dengan yang lain sembari memperkuat identitas diri tanpa harus terjebak ke dalam gerakan fundamentalisme dalam berkesenian.

Yogyakarta, 12 April 2013

Widyatmoko ‘Koskow’

“Teman Merawat Percakapan”

 PAGE 3

One art show that I was in presented by Earth Hour YK, here’s a short prolog for the show: 

E(ART)H!

Green Exhibition

“MANIFESTASI UNTUK BUMI”

Bumi semakin renta karena usia dan ulah yang hidup ddi atasnya. Seudah menjadi tanggung jawab kita yang hidup karenanya untuk menjaga bumi. Tidak muluk-muluk, dari hal yang kecil dulu. Kecil ditumpuk-tumpuk menjadi gunung.

Pameran Seni Rupa dan fotografi ini, merupakan salah satu tindakan dan wujud nyata (manifestasi) kami ikut berpartisipasi dalam menjaga bumi. Bahwa dengan menggunakan barang – barang bekas dapat digunakan sebagai media seni. Melalui pameran seni ini kami ingin menunjukan bahwa baranng – barang bekas juga memiliki nilai.

Selain bentu kecintaan kami pada bumi dengaan mendaur ulang barang- barang bekas menjadi karya seni, dapat dilihat juga kecintaan teman- teman terhadap bumi di beberapa kota Indonesia yang tergabung dalam gerakan Earth Hour.

“Ini Aksiku! Mana Aksimu?”

"Prayer 2.0"
ink on paper, colored with photoshop
2012

"Prayer 2.0"

ink on paper, colored with photoshop

2012

Am A Young Artist Who Still Carries A Bag Of Dreams

Acrylic and Ink on Canvas

30 x 30 cm

2012

Di bulan Agustus Kopi Keliling akan mengadakan sebuah acara baru yang bernama “ACT”. Berbeda dengan format acara-acara Kopling sebelumnya, “ACT” adalah sebuah acara pameran amal pertama dari Kopi Keliling yang akan melibatkan sebanyak 100 seniman muda yang ingin berbuat sosial melalui karyanya. 

Para seniman muda yang terlibatadalah sebagai berikut:

Anto Motulz | Sahid Permana | Tommy Chandra | Talitha Maranila | Zindy Amalia | Wulan Pusponegoro | Juliana Tjitra | Elfitra Mercredi | Caves | Hendy Musa | Arya Mularama | Ario Anindito | Ahmad Ikhwanul M | Sarita Ibnoe | Pamela Halomoan | Yola Blackenthered | Cecillia Hidayat | Atita Dwi Indarty | Ariwowo | Rensi Ardinta | Prasajadi Heru | Diela Maharanie | Nugraha Pratama | Puppetvector | Rukmunal Hakim | Arris Aprillo | Bea Ariani Putri & Kemal P. Ariadi | Anis Wuku Wuk | Dmaz Brodjonegoro | TINX | Dika Toolkit | Kemas Acil | Hana Augustine | Lala Bohang | Raymond Witanto | Castella Natalia | Alam Taslim | Ryan Ady Putra | Varsam Kurnia | Karin Josephine | Ricky Malau | Sahal Abraham | Tiffani Ayu | Ube | Aji | Nona Kumis | Bobbyama Agam | Mas Bay | Thuke | Natasha Abigail | Nganat | Reza Mustar | Eko Bintang | David Tandayu | Emte | Ika Damayanti | Odilia Fenny | Ika Putranto | Hendra Bhakti | Ritchie Ned Hansel | Dwie Judha Satria | Mahendra Nazar | Akhmad Aditya Reynanto | Aditya Rahadi Pratama | Tatiana Romanova | Resatio Adi Putra | Gadis Fitriani | Ferdinand Indrajaya | Dedy Kurniawan | Widya Putri Mada | Budi Satria (Bokumi) | Dewiyanti Yusup | Citra Marina | Astrid Prasetianti | Andika Muksin | Dimas Permana | Muhammad Amin | Arda Awigarda | Vito Mahaputra | Danurdara Labda Wicaksana | Asha Stamboel | Wildan Ilham | Kendra Ahimsa | Jordan Marzuki | Kyra Pradiono | Jason Ranti | Zhar Putra | Steven Dian Marryko | Rhoald Marcellius | Darbotz | Ka Kromodimuljo | Randy J. Parker | One Zhan | Wati Erna | Rika Putrianjani | Ali Hamzah | Ruth Marbun | Irfan Nugroho | Lidia Puspita |

In Cash We Trust Series

is a set of drawing on three different currency, U.S. dollar; Singapore dollar; and Indonesian Rupiah. each drawing has different story of my reflection of what I think about the country I’ve been there. the first one is LIE because i never trust the system of my country its full of lie, LOVE because I enjoyed living in Singapore and people believe and also love in their country, the last one is GOD people work and spend their life for money, all they ever think about is scared of not having money to continue their live. Thats the experience that I had in every country that I’ve lived.

1. LIE

Acrylic and Ink on Indonesian currency ( two thousand rupiah bill)

2.5 x 5.5 Inches

2. LOVE

Acrylic and Ink on Singapore currency ( two dollar bill)

2.5 x 5 Inches

3. GOD

Acrylic and Ink on United States currency ( one dollar bill)

2.5 x 6 Inches

this is what i got dont ruin it.

this is what i got dont ruin it.

Hello, his name is Toto
TOTO
Acrylic, Ink, Clay on Munny
Variable Dimension

Hello, his name is Toto

TOTO


Acrylic, Ink, Clay on Munny

Variable Dimension

"Enlightenment"
Ink on paper
2012

"Enlightenment"

Ink on paper

2012

"Vivi"

"Vivi"

"Toto"

"Toto"

"Prayer"
Ink on Paper
2012

"Prayer"

Ink on Paper

2012